Sabtu, 18 Oktober 2014

Perbedaan Antara Sekadar Jatuh Cinta dan Benar-Benar Mencintai Seseorang

Sekilas, tidak ada perbedaan yang
kentara antara momen jatuh cinta
dan mencintai seseorang. Padahal,
kedua hal itu justru jauh dari kata
‘sama’. Manusia bisa jadi makhluk
banal yang siap tergila-gila pada
siapa saja. Namun, mereka juga bisa
menjadi makhluk yang mencintai
dengan setia, tanpa merasa perlu
mencari selainnya.

Apakah kamu sedang jatuh cinta,
atau sudah bisa benar-benar
mencintai? Sebelum buru-buru
melabeli rasamu, simak perbedaan
keduanya di artikel ini, ya!

1. Jatuh Cinta Berarti Ingin
Memiliki. Mencintai
Membuatmu Merasa Tercukupi.
Ketika jatuh cinta dengan seseorang,
kamu akan merasa bahwa dialah
yang terbaik. Kamu melihat
kesempurnaan di wajahnya, lewat
penampilan, cara berpikir, hingga
caranya bertutur kata. Memuja
hampir segala yang dia punya
membuatmu cenderung buta. Di saat
ini kamu akan menganggap bahwa
bahagia berarti ketika bisa
memilikinya.

Namun, rasa cinta yang
sesungguhnya bukan semata-mata
hasrat ingin memiliki. Tanda bahwa
kamu benar-benar mencintai adalah
ketika kehadirannya jadi begitu
penting dalam hidupmu. Bukan
berarti hidupmu tidak bahagia tanpa
dia, tapi keberadaannya di
sampingmu yang menjadikan
hidupmu sah dikatakan sempurna.

2. Jatuh Cinta Membuatmu
Sering Meminta, Tapi Mencintai
Berarti Banyak-Banyak Memberi

Jatuh cinta bisa membuatmu
berubah menjadi egois. Kamu
berharap dibalas sepadan, minta
diperhatikan, hingga menuntut
untuk selalu dimengerti. Jika jatuh
cinta berarti menjadikan kekasihmu
bagai budak yang wajib
membahagiakanmu, bukankah
cintamu berarti kesialan baginya?

Cinta justru harus banyak-banyak
memberi. Ketika benar-benar
mencintai, kamu akan merasa
bahwa dia layak mendapatkan
dirimu seutuhnya. Rasa cinta, kasih
sayang, dan perhatian tidak pernah
ragu-ragu kamu berikan. Rela
belajar masak demi membuatkan
bekal makan untuknya, peduli
dengan kebersihan kamarnya,
hingga perkara cukup rapikah baju
yang hari ini dia kenakan. Cinta
dengan hebatnya
menjadikanmu ikhlas.

3. Emosi yang Meledak-Ledak
Itu Berbeda Dari Hati yang
Selalu Bisa Diredam

Jatuh cinta membuat emosimu
cenderung fluktuatif. Rencana
kencan di Sabtu malam bisa
membuatmu senyum-senyum
bahagia sepanjang hari. Tapi,
sebentar saja dia terlambat
menjemput sudah membuatmu
uring-uringan. Bahkan saat
perbedaan pendapat akhirnya
membuat kalian mencicipi momen
pertengkaran, kamu akan
terpancing merasakan kekecewaan
hebat.

Saat bisa mencintai dalam-dalam,
kamu tidak lagi melewati drama-
drama dalam hubunganmu. Selain
bisa menjalani hubungan yang
dewasa, emosimu cenderung lebih
stabil. Melewati satu hari tanpa
kabar darinya tidak lagi
membuatmu gundah. Terpisah jarak
lantaran urusan pekerjaan pun
bukan lagi masalah. Satu-satunya
yang bisa membuatmu tenang
adalah ketika dia mendapatkan yang
terbaik – yang membuatnya bahagia.

4. Ketika Kamu Tidak Pernah
dengan Sengaja Mengingatnya
Setiap Saat

Banyak yang beranggapan bahwa
jatuh cinta jauh lebih mudah dan
lebih sederhana daripada mencintai
seseorang. Dia yang sukses
membuatmu jatuh cinta terus
berputar-putar di kepalamu. Tidak
sedetik pun kamu lewatkan tanpa
mengingat kenangan-kenangan saat
bersamanya. Tunggu! Sekedar
mengingatnya bukan berarti kamu
benar-benar peduli padanya, lho!
Saat benar-benar mencintai
pasanganmu, kamu justru tidak
butuh setiap saat untuk
memikirkannya. Tanpa perlu
diperintah atau dirangsang, alam
bawah sadarmu yang menempatkan
dia dalam ingatan. Saat makan
siang, sepiring nasi putih dan ayam
goreng membuatmu mengingatnya
yang menggemari makanan itu.

Ketika melihat jam tangan yang
terlihat cocok dia kenakan, kamu
tidak ragu untuk membeli dan
menyimpankan untuknya. Pikirmu:
“nanti akan kuberikan jika jam
tangan miliknya rusak”.

5. Bersamanya Tidak
Membuatmu Mabuk, Tanpa Dia
Pun Kamu Akan Baik-Baik Saja

Jatuh cinta membuatmu ingin selalu
menghabiskan waktu untuk bersama
pasanganmu. Berangkat ke kampus,
makan siang bersama, pulang
kuliah, jalan-jalan; banyak hal yang
tidak ingin dilewatkan begitu saja
tanpa kehadirannya. Setiap hari,
kamu ingin bisa lebih dekat dengan
pasanganmu. Berharap hubungan
yang terjalin di antara kalian akan
semakin akrab dan intim.

Tapi porsi cinta kalian tidak akan
selalu sama. Ada kalanya hubungan
jadi begitu hangat. Tapi rasa jenuh
bisa juga memaksa kalian sedikit
berjarak. Naik turunnya kadar cinta
kalian tidak perlu dipersoalkan.
Ketika bisa benar-benar mencintai
pasangan, kamu justru akan
menjalani hubungan yang lebih
santai dan minim rasa tidak aman.

Cinta yang kuat di dalam hati bisa
meyakinkanmu bahwa semua akan
baik-baik saja.

6. Berbeda dengan Cinta yang
Sebenarnya, Jatuh Cinta Itu
Perkara Sepele

Kadang, cinta sekedar layaknya
kreasi pikiran dan perasaan
manusia. Ketika diinginkan dan
diizinkan, kamu bisa jatuh cinta
dengan teman baru atau orang asing
yang kamu temui di bus kota saat
berangkat ke kantor. Tapi, momen
jatuh cinta yang sesaat dan tiba-tiba
belum bisa menjanjikan apa-apa.

Cinta itu bisa saja semakin kuat, pun
sekejap hilang berganti cinta yang
lain.

Cinta yang sungguh-sungguh
biasanya sudah melewati berbagai
ujian. Kamu dan pasanganmu
mungkin sudah menjalin hubungan
selama beberapa tahun. Melewati
momen bahagia, sedih, hingga
perasaan kecewa lantaran
kepercayaan yang pernah
dikhianati. Namun, cinta yang kuat
menjadikan kalian bisa bertahan —
bukan memilih menyerah lalu
mencari cinta yang lain.

7. Ketika Benar-Benar Mencintai
Pasanganmu Berarti Kamu
Sukses Mencintai Dirimu
Sendiri

Cinta yang sejati atau sungguh-
sungguh tidak akan mudah hilang
dan berganti. Selamanya, cinta itu
akan tinggal dalam hati dan dirimu,
sekalipun si pembawa cinta sudah
tidak bersamamu lagi.

Bisa benar-benar mencintai
seseorang membuatmu selalu ingin
bercermin. Dia yang tinggal dalam
hati bisa menjadikanmu pribadi
yang baru. Segala yang kamu cintai
atas dirinya berhasil
mempengaruhimu. Di saat inilah,
kamu menikmati cinta yang
sesungguhnya: cinta yang
damai, menghangatkan, dan
membuatmu berkembang.

Yup, hendak sekedar jatuh cinta
atau mencerapi cinta dalam-dalam
adalah hak setiap orang. Yang pasti,
keduanya tidak lantas boleh
melemahkanmu. Seharusnya cinta
bisa membuat hidupmu lebih
bahagia, ‘kan?

Jumat, 17 Oktober 2014

Aku Terpaksa Menikahinya (Kisah Inspirasi untuk Para Istri dan Suami)

Semoga peristiwa di bawah ini membuat kita
belajar bersyukur untuk apa yang kita miliki:

Aku membencinya, itulah yang selalu
kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang
kebersamaan kami. Meskipun menikahinya,
aku tak pernah benar-benar menyerahkan
hatiku padanya. Menikah karena paksaan
orangtua, membuatku membenci suamiku
sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah
menunjukkan sikap benciku. Meskipun
membencinya, setiap hari aku melayaninya
sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa
melakukan semuanya karena aku tak punya
pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan
meninggalkannya tapi aku tak punya
kemampuan finansial dan dukungan siapapun.
Kedua orang tuaku sangat menyayangi
suamiku karena menurut mereka, suamiku
adalah sosok suami sempurna untuk putri
satu-satunya mereka.

Ketika menikah, aku menjadi istri yang
teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka
hatiku. Suamiku juga memanjakanku
sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar
menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku
selalu bergantung padanya karena aku
menganggap hal itu sudah seharusnya setelah
apa yang ia lakukan padaku. Aku telah
menyerahkan hidupku padanya sehingga
tugasnyalah membuatku bahagia dengan
menuruti semua keinginanku.
Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada
seorangpun yang berani melawan. Jika ada
sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan
suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah
yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal
melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk
susu di atas meja dan meninggalkan bekas
lengket, aku benci ketika ia memakai
komputerku meskipun hanya untuk
menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau
ia menggantung bajunya di kapstock bajuku,
aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi
tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah
kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali
ketika aku sedang bersenang-senang dengan
teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak.
Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau
mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan
akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia
menyembunyikan keinginannya begitu dalam
sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan
meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun
hamil dan baru menyadarinya setelah lebih
dari empat bulan, dokterpun menolak
menggugurkannya.

Itulah kemarahanku terbesar padanya.
Kemarahan semakin bertambah ketika aku
mengandung sepasang anak kembar dan harus
mengalami kelahiran yang sulit. Aku
memaksanya melakukan tindakan vasektomi
agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia
melakukan semua keinginanku karena aku
mengancam akan meninggalkannya bersama
kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa
berulang tahun yang ke-delapan.

Seperti pagi-
pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir.
Suami dan anak-anak sudah menungguku di
meja makan. Seperti biasa, dialah yang
menyediakan sarapan pagi dan mengantar
anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia
mengingatkan kalau hari itu ada peringatan
ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab
dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-
katanya yang mengingatkan peristiwa tahun
sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan
tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa
terjebak dengan perkawinanku, aku juga
membenci kedua orang tuaku.
Sebelum ke kantor, biasanya suamiku
mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak.

Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga
anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut.
Aku berusaha mengelak dan melepaskan
pelukannya. Meskipun akhirnya ikut
tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali
mencium hingga beberapa kali di depan pintu,
seakan-akan berat untuk pergi.
Ketika mereka pergi, akupun memutuskan
untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon
adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku
beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu
salah satu temanku sekaligus orang yang tidak
kusukai. Kami mengobrol dengan asyik
termasuk saling memamerkan kegiatan kami.

Tiba waktunya aku harus membayar tagihan
salon, namun betapa terkejutnya aku ketika
menyadari bahwa dompetku tertinggal di
rumah. Meskipun merogoh tasku hingga
bagian terdalam aku tak menemukannya di
dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat
apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa
kutemukan aku menelepon suamiku dan
bertanya.
Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang
jajan dan aku tak punya uang kecil maka
kuambil dari dompetmu. Aku lupa
menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak
salah aku letakkan di atas meja kerjaku.”
Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan
kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya
selesai bicara. Tak lama kemudian,
handphoneku kembali berbunyi dan meski
masih kesal, akupun mengangkatnya dengan
setengah membentak. “Apalagi??”
Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil
dompet dan mengantarnya padamu. Sayang
sekarang ada di mana?” tanya suamiku cepat,
khawatir aku menutup telepon kembali. Aku
menyebut nama salonku dan tanpa menunggu
jawabannya lagi, aku kembali menutup
telepon. Aku berbicara dengan kasir dan
mengatakan bahwa suamiku akan datang
membayarkan tagihanku. Si empunya Salon
yang sahabatku sebenarnya sudah
membolehkanku pergi dan mengatakan aku
bisa membayarnya nanti kalau aku kembali
lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga
ikut mendengarku ketinggalan dompet
membuatku gengsi untuk berutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan
berharap mobil suamiku segera sampai. Menit
berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar
sehingga mulai menghubungi handphone
suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah
berkali-kali ku telepon. Padahal biasanya
hanya dua kali berdering teleponku sudah
diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan
marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali
mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi
keluar, terdengar suara asing menjawab
telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat
sebelum suara lelaki asing itu
memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu.
Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab
pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu
ternyata seorang polisi, ia memberitahu
bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan
saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit
kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan
hanya menjawab terima kasih.

Ketika telepon
ditutup, aku berjongkok dengan bingung.
Tanganku menggenggam erat handphone yang
kupegang dan beberapa pegawai salon
mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa
hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di
rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu
seluruh keluarga hadir di sana menyusulku.

Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu
suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku
tak tahu harus melakukan apa karena selama
ini dialah yang melakukan segalanya untukku.
Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa
jam, tepat ketika kumandang adzan Maghrib
terdengar seorang dokter keluar dan
menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada.
Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri,
serangan stroke-lah yang menyebabkan
kematiannya. Selesai mendengar kenyataan
itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orang
tuaku dan orang tuanya yang shock. Sama
sekali tak ada airmata setetespun keluar di
kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah
ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul
memelukku dengan erat tetapi kesedihan
mereka sama sekali tak mampu membuatku
menangis.
Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku
duduk di hadapannya, aku termangu menatap
wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-
benar menatap wajahnya yang tampak tertidur
pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi
dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi
sesak teringat apa yang telah ia berikan
padaku selama sepuluh tahun kebersamaan
kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah
dingin dan kusadari inilah kali pertama kali
aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu
dihiasi senyum hangat. Airmata merebak di
mataku, mengaburkan pandanganku. Aku
terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak
menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku
ingin mengingat semua bagian wajahnya agar
kenangan manis tentang suamiku tak berakhir
begitu saja. Tapi bukannya berhenti, air
mataku semakin deras membanjiri kedua
pipiku. Peringatan dari imam masjid yang
mengatur prosesi pemakaman tidak mampu
membuatku berhenti menangis.

Aku berusaha
menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa
yang telah kuperbuat padanya terakhir kali
kami berbicara.
Aku teringat betapa aku tak pernah
memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak
pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu
mengatur apa yang kumakan. Ia
memperhatikan vitamin dan obat yang harus
kukonsumsi terutama ketika mengandung dan
setelah melahirkan. Ia tak pernah absen
mengingatkanku makan teratur, bahkan
terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas
makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia
makan karena aku tak pernah bertanya.
Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan
tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu
bahwa suamiku adalah penggemar mie instant
dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya,
karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan
mie instant karena aku hampir tak pernah
memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk
anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak peduli
dia sudah makan atau belum ketika pulang
kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau
bersisa. Ia pun pulang larut malam setiap hari
karena dari kantor cukup jauh dari rumah.
Aku tak pernah mau menanggapi
permintaannya untuk pindah lebih dekat ke
kantornya karena tak mau jauh-jauh dari
tempat tinggal teman-temanku.

Saat pemakaman, aku tak mampu menahan
diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya
hilang bersamaan onggokan tanah yang
menimbun. Aku tak tahu apapun sampai
terbangun di tempat tidur besarku. Aku
terbangun dengan rasa sesal memenuhi
rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku
dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu
mengapa aku begitu terluka kehilangan
dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya
bukanlah kebebasan seperti yang selama ini
kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam
keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal
kepergiannya, aku duduk termangu
memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu
mertuaku membujukku makan. Tetapi yang
kuingat hanyalah saat suamiku membujukku
makan kalau aku sedang mengambek dulu.
Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi,
aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan
ketika malah ibuku yang datang, aku
berjongkok menangis di dalam kamar mandi
berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang
meneleponnya setiap kali aku tidak bisa
melakukan sesuatu di rumah, membuat teman
kerjanya kebingungan menjawab teleponku.
Setiap malam aku menunggunya di kamar
tidur dan berharap esok pagi aku terbangun
dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar
suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan
sering terbangun karena rindu mendengarnya
kembali. Dulu aku kesal karena ia sering
berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini
aku merasa kamar tidur kami terasa kosong
dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia
melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di
laptopku tanpa me-log out, sekarang aku
memandangi komputer, mengusap tuts-
tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih
tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka
ia membuat kopi tanpa alas piring di meja,
sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi
terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote
televisi yang biasa disembunyikannya,
sekarang dengan mudah kutemukan meski aku
berharap bisa mengganti kehilangannya
dengan kehilangan remote. Semua kebodohan
itu kulakukan karena aku baru menyadari
bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena
panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku
marah karena semua kelihatan normal
meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah
karena baju-bajunya masih di sana
meninggalkan baunya yang membuatku rindu.
Aku marah karena tak bisa menghentikan
semua penyesalanku. Aku marah karena tak
ada lagi yang membujukku agar tenang, tak
ada lagi yang mengingatkanku shalat meskipun
kini kulakukan dengan ikhlas. Aku shalat
karena aku ingin meminta maaf, meminta
maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami
yang dianugerahi padaku, meminta ampun
karena telah menjadi istri yang tidak baik
pada suami yang begitu sempurna. Shalatlah
yang mampu menghapus dukaku sedikit demi
sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya
dengan begitu banyak perhatian dari keluarga
untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang
selama ini kubela-belain, hampir tak pernah
menunjukkan batang hidung mereka setelah
kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya,
keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari
keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku
dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung
merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak
pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku.

Berapa besar pendapatannya selama ini aku
tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya
jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku
untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan
setiap bulan uang itu hampir tak pernah
bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku
memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi
bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak
menyangka, ternyata seluruh gajinya
ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal
aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk
keperluan rumah tangga. Entah dari mana ia
memperoleh uang lain untuk memenuhi
kebutuhan rumah tangga karena aku tak
pernah bertanya sekalipun soal itu. Yang aku
tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-
anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji
terakhir dan kompensasi bonusnya takkan
cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi
bekerja di mana? Aku hampir tak pernah
punya pengalaman sama sekali. Semuanya
selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu
kemudian. Ayahku datang bersama seorang
notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen.
Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat
pernyataan suami bahwa ia mewariskan
seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia
menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi
yang membuatku tak mampu berkata apapun
adalah isi suratnya untukku.

Istriku Liliana tersayang,
Maaf karena harus meninggalkanmu
terlebih dahulu, sayang. Maaf karena
harus membuatmu bertanggung
jawab mengurus segalanya sendiri.
Maaf karena aku tak bisa memberimu
cinta dan kasih sayang lagi. Allah
memberiku waktu yang terlalu
singkat karena mencintaimu dan
anak-anak adalah hal terbaik yang
pernah kulakukan untukmu.
Seandainya aku bisa, aku ingin
mendampingi sayang selamanya.
Tetapi aku tak mau kalian kehilangan
kasih sayangku begitu saja. Selama ini
aku telah menabung sedikit demi
sedikit untuk kehidupan kalian nanti.
Aku tak ingin sayang susah setelah
aku pergi. Tak banyak yang bisa
kuberikan tetapi aku berharap sayang
bisa memanfaatkannya untuk
membesarkan dan mendidik anak-
anak. Lakukan yang terbaik untuk
mereka, ya sayang.
Jangan menangis, sayangku yang
manja. Lakukan banyak hal untuk
membuat hidupmu yang terbuang
percuma selama ini. Aku memberi
kebebasan padamu untuk
mewujudkan mimpi-mimpi yang tak
sempat kau lakukan selama ini.
Maafkan kalau aku menyusahkanmu
dan semoga Tuhan memberimu jodoh
yang lebih baik dariku.
Teruntuk Farah, putri tercintaku.
Maafkan karena ayah tak bisa
mendampingimu. Jadilah istri yang
baik seperti Ibu dan Farhan, kesatria
pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah.
Jangan jadi anak yang bandel lagi dan
selalu ingat di manapun kalian
berada, ayah akan di sana
melihatnya. Oke, Buddy!

Aku terisak membaca surat itu, ada gambar
kartun dengan kacamata yang diberi lidah
menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan
note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini
suamiku memiliki beberapa asuransi dan
tabungan deposito dari hasil warisan ayah
kandungnya. Suamiku membuat beberapa
usaha dari hasil deposito tabungan tersebut
dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun
dimanajerin oleh orang-orang
kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis
terharu mengetahui betapa besar cintanya
pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya
ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi.
Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu
menghapus sosoknya yang masih begitu hidup
di dalam hatiku. Hari demi hari hanya
kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orang
tuaku dan mertuaku pergi satu persatu
meninggalkanku selama-lamanya, tak satupun
meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku
saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia dua puluh
tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi
seorang pemuda dari tanah seberang. Putri
kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana
nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan
ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?
Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta
sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan
hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau
akan mendapatkan segalanya. Karena cinta,
kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan
belajar menerima kekurangannya, akan belajar
bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan
menyelesaikannya atas nama cinta.”

Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk
ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap
setia pada ayah sampai sekarang?”
Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah
suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu,
seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu
setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu
besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat
menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku
menghabiskan sepuluh tahun untuk
membencinya, tetapi menghabiskan hampir
sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya.

Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku
tak pernah bisa bebas dari cintanya yang
begitu tulus.

Dear istri masa depanku yang tak tau siapa, dimana, dan bagaimana rupamu

Dengan judul
"KENAPA AKU MEMILIH ISTRIKU"

Dia adalah mahasiswa perguruan tinggi
disebuah salah satu universitas di Semarang.

Sebut saja namanya Pak Handoyo, dia seorang
mahasiswa Sarjana D2 dan dia kuliah lagi guna
mendapatkan ijazah S1. Dia sudah berkeluarga
mempunyai istri dan satu orang anak.

Suatu hari saat pelajaran kuliah dimulai. Satu
jam kemudian, untuk mengurangi kejenuhan,

Dosen membuat sebuah pertanyaan. Dan Pak
Handoyo disuruh untuk maju ke depan. Lalu
Dosen mengajukan sebuah pertanyaan.
"Sekarang pilihlah 10 orang yang anda anggap
penting, dan tuliskan!"

Lalu dia tuliskan 10 orang pilihannya
diwhitebord. Tak lama kemudian 10 sudah
tertera dipapan tulis. Ada sodara, teman,
sahabat, tetangga, anak, istri dan orang tuanya.

Lalu dosen itu berkata lagi.
"coret/silahkan hapus 2 orang dari kesepuluh
pilihanmu itu!"

Tak lama kemudian Pak Handoyo menghapus 2
pilihannya yaitu tetangga dan temannya, dan
tersisalah 8 orang.

Lalu dosen itu berkata lagi.
"hapuslah 2 orang lagi !!"

Hingga ahirnya hanya tersisa 3 pilihan nama
yaitu Orang tuanya, Istrinya, dan anaknya.

Dan dosen itupun berkata lagi "Silahkan hapus
2 nama lagi dan sisakan satu!!"
Suasana ruang kuliahpun sekejap menjadi
hening.
Pak Handoyo bingung diantara ke-3 nama itu
yang akan dipilihnya siapa. Kira-kira 1menit
kemudian. Dicoretlah nama orangtuanya dan
anaknya. Sehingga tersisa 1 nama yaitu nama
istrinya.

Dan dosen itupun berkata. Kenapa anda
memilih istri anda tinimbang kedua orang tua
yg telah membesarkanmu?

Lalu pak handoyo menjawab. (Dengan mata
berkaca-kaca)
"Tadi bapak menyuruh saya memilih dan
ahirnya tersisalah 3 pilihan yaitu orangtua saya,
istri, dan anak saya.

Alasan kenapa saya tak memilih orang tua saya
adalah ORANG TUA BUKANLAH PILIHANKU,
MELAINKAN MEREKA ADALAH PILIHAN TUHAN,
ANUGRAH, DAN KARUNIANYA. Dan KELAK
MEREKA AKAN MENINGGALKAN SAYA PADA
WAKTUNYA NANTI DAN TAK AKAN BERSAMAKU
HINGGA SAYA MATI NANTI.

Dan
Alasan kenapa saya tak memilih anak saya.
ANAK SAYA KELAK SAAT BESAR JUGA AKAN
MENINGGALKAN SAYA, KARNA IA AKAN
MENIKAH DAN MEMPUNYAI KELUARGA SENDIRI
DAN AKAN HIDUP DENGAN KELUARGA
BARUNYA.

Dan alasan kenapa saya memilih istri saya.
"KARENA IALAH PILIHANKU UNTUK KUNIKAHI.

Bukan pilihan orangtua, sodara /teman saya.
Ialah yang akan menemaniku, menjagaku,
membahagiakanku dan akan bersamaku
selamanya hingga tua dan mati nantinya."

Lalu dosen dan teman-temannya satu ruang
memberikan tepuk tangan untuk pak handoyo.

Rabu, 15 Oktober 2014

Maafkan Atas Keraguanku...

Ketika sang mentari membias di atas bukit

Sinarnya sangat indah berwarna warni

Mengagumkan rasa ,hingga tak beranjak

Begitu indahnya Alam

Di ketulusan memberi , tanpa mengharap
kembali

Sungguh sangat-sangat mengagumkan

Segala keindahan Alam ,

Mengingatkanku pada sang kekasih hati

Yang selalu setia dengan ketulusan

Namun aku sering meragukannya

Dan menyia-nyiakan kesetiaannya
"Aku memang jahad dan bodoh "

Tak menghargai arti kesetiaan

Maafkan aku sayangku..
Yang menganggap diam mu adalah kebosanan

Dan menganggap mencintaimu adalah kesalahan

Sehingga keraguan menghinggapiku

Dan maafkan aku cintaku...

Tak menghargai kesetiaan dan ketulusan
Karena memang aku , bodoh dan buta dengan
rasa

Sehingga melukai hati nuranimu
Mungkin saat ini kau masih terluka,,

Dengan syair ini kuharapkan kau mengerti

Sebenarnya rasa diri , padamu...
Bukanlah kesengajaan atau Keinginan berpisah
Tetapi memang karena kebodohanku,
Mengartikan kesetiaanmu ..
Sekali lagi maafkan aku...
Karena telah meragukan ketulusanmu.

Bertemu adalah KESEMPATAN & Mencintai adalah PILIHAN .

Ketika bertemu seseorang yang membuat kita
tertarik, Itu bukan pilihan, itu KESEMPATAN..
Bila kita memutuskan untuk mencintai orang
tersebut, bahkan dengan segala kekurangannya..
Itu bukan kesempatan, itu adalah PILIHAN..
Ketika kita memilih bersama seseorang walau
apapun yang terjadi, justru di saat kita
menyadari bahwa masih banyak orang lain yang
lebih menarik, lebih pandai, lebih kaya
daripada pasangan kita, dan tetap memilih
untuk mencintainya..
Itu bukan kesempatan, itu adalah PILIHAN...
Perasaan cinta, simpatik, tertarik, datang
sebagai KESEMPATAN dalam hidup kita..
Tetapi cinta yang dewasa, mencintai dengan
komitmen di hadapan Tuhan dan manusia
adalah PILIHAN...
Mungkin KESEMPATAN mempertemukan
pasangan jiwa kita dengan kita..
Tetapi mencintai dan tetap bersama pasangan
jiwa kita, adalah PILIHAN yang harus kita
pertanggung jawabkan di hadapan Tuhan dan
manusia.
Kita berada di dunia bukan untuk mencari
seseorang yang Sempurna untuk dicintai..
Tetapi untuk BELAJAR mencintai orang yang
Belum Sempurna.. Dengan cara yang
Sempurna...
Mari BELAJAR mencintai dan menyayangi
pasangan kita yang Belum SEMPURNA dengan
cara yang SEMPURNA..
Karena pasangan kita adalah belahan jiwa kita..
Agar jiwa kita pun menjadi SEMPURNA di
hadapan Tuhan...
Takdir yang mempertemukan. Rancangan yang
indah telah disiapkan oleh-Nya ..
Terimakasih,
Wassalam.

OFA
(Kiriman dari seorang teman)

Selasa, 14 Oktober 2014

Waktu dan kesempatan

Pernahkah sahabat melakukan
sesuatu yang seharusnya bisa
dilakukan diwaktu lampau ?
Perasaan menyesal, ya persaan menyesal
mungkin diantara kita pernah merasa perasaan
itu. Entah sebab apa atau apa faktornya.
Perasaan menyesal itu datang sebab sesuatu
yang ingin diulang dimasa lalu agar bisa
diulang namun apa daya waktu tak dapat
diputar untuk datang kembali.
Namun waktu mungkin tak dapat diputar
untuk dapat hadir yang kedua kalinya tapi
ingat kesempatannya mungkin bisa datang
lebih dari dua kali atau lebih untuk
memperbaikinya.
Terkadang kita tidak dapat membedakan waktu
dan kesempatan. Terkadang kita juga
menyamakan waktu dan kesempatan. Padahal
waktu dan kesemapatan itu berbeda, sebab
waktu tak akan datang dua kali namun
kesempatan dapat datang lebih dari sekali.
Mungkin kesempatan yang kita lakukan tidak
bisa mendatangkan masa lalu tapi paling tidak
kita sudah memperbaikinya dimasa sekarang
dan menjadikannya sebagai pelajaran dimasa
yang akan datang.
Bijaklah dalam menggunakan waktu sebab dia
adalah teman yang tidak pernah ngaret selalu
ada untuk kita, tak pernah menuntutmu begini
begitu. Waktu juga teman yang tertutup
tentang masa depan. Namun tertutup dia
memberikan satu bocoran pada kita. “jika
ingin melihat masa depanmu, lihatlah yang
kamu perbuat hari ini, sebab bisa jadi
gambaran masa depanmu mulai digambar hari
ini”
Waktu dan kesempatan itu bisa
datang bersamaan, mungkin
kesempatan dapat datang berkali-kali
namun waktu tak akan datang untuk
yang kedua kalinya.
Menyesal itu adalah waktunya dan
memperbaiki adalah kesempatannya

Antara Waktu dan Kesempatan

Hidup kita ini ada batasnya, dan sedihnya lagi….
batas kehidupan ini makin hari makin dekat
dengan ujungnya…
Bagi mereka yang terlupa oleh indahnya dunia,
maka menjalani hidup bak sebuah perjalanan
menikmati alun alun kota yang penuh
keindahan. Melihat kesana kemari demi
indahnya sekeliling, serta menikmatinya tanpa
henti, tanpa khawatir….
Bagi mereka yang terbangun dalam bayangan
mimpi dunia… maka hari harinya kan penuh
diisi oleh pengumpulan bekal. Pengalaman
serta kesempatan tuk bermanfaat
dimaksimalkan sedemikian rupa. Setiap saatnya
dia sadar, batas waktu semakin dekat, dan bila
itu tiba tak bisa dihindar, tak bisa ditunda.
Oleh karenanya, usahakanlah…. minimal 1
satuan waktu menghasilkan 1 satuan amal.
karena pada dasarnya, dalam kehidupan kita
ini… dalam 1 satuan waktu, ada tak terhingga
satuan kesempatan untuk berbuat amal. Maka
ambil yg paling minimalnya, sehingga kita tetap
termasuk mereka yang beruntung..

Senin, 06 Oktober 2014

HoneyBee shop

HDI Clover Honey adalah produk High-Desert
yang mengandung madu murni dan diolah
secara alami sehingga dapat memberikan
manfaat optimal bagi kesehatan Anda.
HDI Clover Honey memiliki berbagai
manfaat bagi kesehatan yang telah
dibuktikan secara ilmiah. Manfaat-manfaat
itu adalah:
Membantu menjaga kesehatan sistem
pencernaan, seperti:
Mengatasi konstipasi/sembelit.
Membantu mengatasi luka (tukak) pada
lambung.
Meningkatkan penyerapan nutrisi, salah
satunya kalsium.
Menjaga keseimbangan bakteri menguntungkan
dan menghambat bakteri merugikan yang dapat
menyebabkan tukak lambung.
Sebagai sumber energi yang baik. HDI Clover
Honey mengandung fruktosa dan glukosa yang
mudah diubah tubuh menjadi energi.
Sebagai pengganti gula yang aman sehingga
baik bagi penderita diabetes. Pengaruh HDI
Clover Honey terhadap kenaikan gula darah
relatif lebih rendah dibandingkan gula biasa.
Memiliki sifat mukolitik (mengencerkan dahak)
sehingga baik untuk sistem pernafasan.
Membantu menyembuhkan luka berair atau
bernanah karena HDI Clover Honey memiliki
sifat higroskopis (menarik air).
HDI Clover Honey lebih baik dari madu-
madu yang beredar di pasaran karena:
HDI Clover Honey mengandung madu murni
yang berasal dari bunga clover yang dinyatakan
sebagai madu terbaik oleh peternak lebah di
seluruh dunia.
Terjamin kealamiannya karena diproses tanpa
penambahan air, pengawet, dan gula.
Tidak mengalami proses pemanasan dan
penyaringan yang hanya akan menghilangkan
kandungan nutrisinya.
Mengandung royal jelly dan bee pollen yang
semakin memperkaya kandungan nutrisinya.
Memiliki kandungan air yang sangat sedikit,
yakni hanya 17%. Semakin sedikit kandungan
airnya, maka semakin sulit bakteri berkembang
di madu tersebut.
HDI Clover Honey hadir dalam kemasan
plastik berisi ½ kg dan 1 kg.
Saran konsumsi:
Untuk konsumsi sehari-hari, larutkan satu
sendok makan HDI Clover Honey ke dalam
segelas air bertemperatur normal atau
mengoleskannya pada roti, wafel, atau
pancake.
Untuk luka, oleskan HDI Clover Honey secara
tipis-tipis di permukaan luka.